Doa Harian Ramadhan Lengkap Agar Puasa Penuh Keberkahan

Jumat, 27 Februari 2026 | 09:08:44 WIB
Doa Harian Ramadhan Lengkap Agar Puasa Penuh Keberkahan

JAKARTA - Ramadhan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum memperbanyak doa dan dzikir. 

Di bulan yang penuh keberkahan ini, umat Islam meyakini bahwa pintu-pintu surga dibuka dan doa-doa mustajab lebih mudah dikabulkan. Karena itu, mengetahui dan mengamalkan doa harian Ramadhan agar puasa penuh keberkahan menjadi bagian penting dalam menyempurnakan ibadah.

Dalam ajaran Islam, setiap amalan memiliki landasan syariat yang shahih. Hal ini penting agar ibadah tidak tercampur dengan praktik yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Merujuk ebook Kumpulan Doa & Dzikir Ramadhan karya Ammi Nur Baits dan sejumlah sumber relevan lainnya, berikut rangkaian doa yang dapat diamalkan selama Ramadhan, lengkap dengan teks Arab, transliterasi, arti, serta penjelasan ulama dan rujukannya.

Doa Menyambut dan Mengawali Ramadhan

Walau tidak ada doa khusus yang secara langsung diajarkan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menyambut Ramadhan, para sahabat dan ulama salaf terbiasa memanjatkan doa agar dipertemukan dengan bulan mulia ini.

اللَّهُمَّ سَلِّمْنِيْ إِلَى رَمَضَانَ، وَسَلِّمْ لِيْ رَمَضَانَ، وَتَسَلَّمْهُ مِنِّيْ مُتَقَبَّلاً
Latin: Allahumma salimnii ila Ramadhaan, wa salim lii Ramadhaan, wa tasallamhu minnii mutaqabbala.
Artinya: "Ya Allah, antarkanlah aku hingga sampai kepada Ramadhan, antarkanlah Ramadhan kepadaku, dan terimalah amal-amalku di bulan Ramadhan."

Doa ini diriwayatkan dari Yahya bin Abi Katsir, seorang ulama tabi'in, dan disebutkan oleh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam Lathaiful Ma'arif yang membahas keistimewaan waktu-waktu tertentu termasuk Ramadhan.

Saat melihat hilal Ramadhan, Rasulullah SAW juga mengajarkan doa khusus:

اللهُ أَكْبَرُ، اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْأَمْنِ وَالْإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ، وَالتَّوْفِيْقِ لِمَا تُحِبُّ وَتَرْضَى، رَبُّنَا وَرَبُّكَ اللهُ
Latin: Allahu akbar, Allahumma ahillahu ‘alaina bil amni wal iman, was-salamati wal islam, wat-taufiq lima tuhibbu wa tardha, rabbuna wa rabbukallah.
Artinya: "Allah Maha Besar, Ya Allah, tampakkanlah hilal itu kepada kami dengan membawa keamanan dan keimanan, keselamatan dan Islam, serta taufik kepada apa yang Engkau cintai dan ridhai. Tuhan kami dan Tuhanmu (wahai bulan) adalah Allah."

Hadis ini diriwayatkan dari Ibnu Umar RA dalam Musnad Imam Ahmad dan dinilai shahih oleh Syu'aib Al-Arnauth serta hasan oleh Al-Albani. Dijelaskan bahwa doa ini dibaca ketika benar-benar melihat hilal dan dianjurkan menghadap kiblat saat berdoa.

Memperbanyak Istighfar dan Doa Menjelang Berbuka

Waktu sahur, terutama sepertiga malam terakhir, adalah waktu yang sangat istimewa. Allah Ta'ala turun ke langit dunia untuk mengabulkan doa hamba-Nya. Di waktu ini dianjurkan memperbanyak istighfar.

أَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ
Latin: Astaghfirullah wa atuubu ilaih.
Artinya: "Aku memohon ampun kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya."

QS. Ali Imran ayat 17 memuji orang-orang yang beristighfar di waktu sahur. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa ayat tersebut menunjukkan keutamaan memperbanyak istighfar pada waktu itu. Hadis qudsi dalam Shahih Bukhari dan Muslim juga menegaskan bahwa Allah berfirman, "Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni."

Menjelang berbuka puasa juga termasuk waktu mustajab. Salah satu doa yang dibaca saat masih berpuasa adalah:

اللَّهُمَّ إِنِّيْ أَسْأَلُكَ بِرَحْمَتِكَ الَّتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ أَنْ تَغْفِرَ لِيْ
Latin: Allahumma innii as-aluka bi rahmatikal latii wasi'at kulla syai-in an taghfira lii.
Artinya: "Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan rahmat-Mu yang meliputi segala sesuatu, agar Engkau mengampuniku."

Doa ini diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash radhiyallahu ‘anhuma dalam Sunan Ibnu Majah. Hadis tentang tiga golongan yang doanya tidak ditolak, salah satunya orang yang berpuasa hingga berbuka (HR. Tirmidzi), semakin menguatkan anjuran memperbanyak doa di waktu ini.

Doa Setelah Berbuka dan untuk Tuan Rumah

Setelah benar-benar selesai berbuka, dianjurkan membaca doa berikut:

ذَهَبَ الظَّمَأُ، وَابْتَلَّتِ الْعُرُوْقُ، وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللهُ
Latin: Dzahabazh-zhama'u, wabtallatil 'uruuqu, wa tsabatal ajru insyaa Allah.
Artinya: "Telah hilang dahaga, urat-urat telah basah, dan telah diraih pahala, insya Allah."

Doa ini diriwayatkan dari Ibnu Umar RA dalam Sunan Abu Daud dan dinilai hasan oleh Al-Albani. Dijelaskan bahwa doa ini dibaca setelah selesai berbuka, bukan sebelumnya.

Apabila berbuka di rumah orang lain, dianjurkan mendoakan tuan rumah:

أَفْطَرَ عِنْدَكُمُ الصَّائِمُوْنَ، وَأَكَلَ طَعَامَكُمُ الْأَبْرَارُ، وَصَلَّتْ عَلَيْكُمُ الْمَلَائِكَةُ
Latin: Afthara 'indakumush-shaa-imuun, wa akala tha'amakumul abraaru, wa shallat 'alaikumul malaa-ikah.
Artinya: "Orang-orang yang berpuasa telah berbuka di tempat kalian, orang-orang baik telah makan makanan kalian, dan para malaikat telah mendoakan kebaikan untuk kalian."

Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Doa Qunut Witir dan Doa Lailatul Qadar

Dalam shalat Witir di bulan Ramadhan, disunnahkan membaca doa qunut:

اللَّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنَا شَرَّ مَا قَضَيْتَ، فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ، وَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

Doa ini diajarkan Rasulullah kepada Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma dan diriwayatkan oleh An-Nasa'i, At-Tirmidzi, serta Ibnu Khuzaimah.

Adapun di malam Lailatul Qadar, Rasulullah mengajarkan doa ringkas namun mendalam:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّيْ
Latin: Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii.
Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai permintaan maaf, maka maafkanlah aku."

Doa ini diajarkan kepada Aisyah radhiyallahu ‘anha sebagaimana diriwayatkan dalam HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, serta dinilai shahih oleh Al-Albani. Tidak ada tambahan kata "karim" dalam riwayat yang shahih.

Dengan mengamalkan doa-doa ini sesuai tuntunan, diharapkan puasa yang dijalani tidak hanya sah secara hukum, tetapi juga semakin berkualitas dan penuh keberkahan hingga akhir Ramadhan.

Terkini